Pages

my first story

Don’t judge a book from it’s cover



“dok!dok!dok!”terdengar suara pintu di pukul dengan keras.
“rijal!buruan! nggak usah luluran sekarang! Udah nggak kuat!”seru pria di depan kamar mandi sambil memegangi perutnya.
“udah terlanjur.” Jawab rijal santai. “Di kamar mandinya ayah aja.”lanjutnya.
“ada boy.”jawabnya.
“oj,ya udah,tungguin aja. Bentar lagi aku mau bilas lulurnya.”
“masih lama?”
“bentar lagi. Kurang 5 menit. Paling lama juga 10 menit.”
“hah? Waduh,aku masuk aja,ya?”pria tampak sudah tidak kuat.
“eh,jangan.”seru rijal.
“kamar mandi ayah kosong”ucap boy yang saat itu lewat. Dia baru selesai mandi.
Pria tidak mau menjawab apapun. Dia langsung berlari ke kamar madni ayahnya. Saat pintunya di buka, “eh,jangan masuk!”seru orang yang berada di kamr mandi.
“ayah,”pria terdengar sangat lemas.
“ya,aku udah selesai.”ucap rijal.
Pria segera berlari ke kamar mandi belakang. Dan saat ia sudah hampir sampai di kamar mandi,pintu kamar mandi sudah tertutup. Pria mengetuk pintu kamar mandi. “siapa?”tanyanya.
“abang,ya. Bentar.”jawab yang di dalam.
“ABANG!!!!!!”seru pria.
Itulang yang selalu terjadi setiap paginya di rumah si kembar,begitu sebutan untuk rumah jalan melon nomor 12 itu. pria yang selalu mendapat giliran mandi terakhir bersama sakit perutnya. Dan rijal yang mandinya super lama. Dan boy yang tidak pernah menyampaikan sesuatu dengan lengkap sehingga  pria selalu menderita setiap paginya.
Rumah si kembar adalah rumah tempat tinggal seorang ayah bersama 7 anak laki lakinya. Junno dan renno. Anak tertua,mereka kembar. Junno kurniawan,dia adalah anggota klub futsal. Dia sering bermain futsal bersama ayah dan salah satu adiknya,gian. Dia juga sering memasak untuk saudara saudaranya.
Renno kurniawan,anggota tim basket. Dia sangat boros. Dia bisa menghabiskan uang jajannya yang seharusnya ia gunakan untuk satu bulan dalam waktu satu jam,hanya untuk membeli pulsa. Dia tidak pernah terlepas dari handponenya kecuali saat mandi dan bermain basket. Entah siapa saja yang di hubungin,tapi dia sangat boros untuk pulsanya.
Setelah junno dan renno,ada adik triplet mereka. Pria,rijal dan boy. Yang tertua,pria mahadewa. Kapten klub basket yang keren. Kemampuannya bermain basket tidak perlu di ragukan lagi. Dia sudah di pilih menjadi kapten klub basket di sekolahnya walaupun dia masih duduk di kelas 10. Dia murah senyum. Dia mempunyai cukup banyak teman. Konyol bukan main.
Si tengah,rizal mahadewa. Cowok kemayu satu ini memiliki sangat banyak teman. Ia aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi yang ada di sekolah. Ia memiliki fisik yang sama dengan saudara saudaranya,namun,yang berbeda adalah tingkahnya yang kemayu. Dia cukup pandai memasak. Dia memiliki jiwa keibu ibuan yang membuatnya bisa mengejakan pekerjaan rumah tangga yang umumnya di kerjakan oleh ibu ibu. Walaupun dia kemayu,dia mempunyai rahasia yang bahkan saudaranya sendiri tidak mengetahiu rahasia tersebut.
Yang temuda,boy mahadewa. Boy,dia sangat pendiam dan pelit kata kata. Dia sering mengucapkan sebuah kalimat dengan jumlah kata sangat sedikit di dalamnya. Tidak jarang kalimat yang ia ucapkan mengubah arti kalimat sesungguhnya. Dia menggunakan kacamata walau tidak minus. Dia ingin menyembunyikan wajahnya yang mirip dengan pria yang menjadi idola dan rijal yang sering tampak di mana mana. Dia juga memiliki rahasia yang dia pikir tidak ada orang tahu. Namun,sebenarnya,adik adik kembarnya mengetahui rahasia tersebut.
Setelah triplets yang memiliki sifat berbeda,ada si kembar gian dan rian. Gian,dia sangat suka bermail bola,entah volley,futsal,basket ataupun sepak bola. Dia hanya mennyukai olah raga yang menggunakan bola,bola besar. Dia tergabung dalam klub sepak bola di sekolahnya. Dia juga sering bermain bersama kakaknya,junno.
Rian.termasuk anak yang memiliki nilai teringgi di antara saudara saudaranya. Iq nya cukup tinggi. Ia lebih suka permainan asah otak dari pada permainan fisik yang sering di lakukan saudara saudaranya. Dia selalu tampak jauh lebih tenang dari pada saudar saudaranya yang lain.
#########
Rian mengacak acak lemari pria,ia ingin meminjam rubik milik kakaknya. Lemari yang semula sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Anak berusia 13 tahun itu terus mengacak acak kamarnya sampai boy datang.  Boy yang baru datang hanya melihat dengan tatapan datar ke arah adiknya lalu mengambil handuk untuk mandi. Lalu pergi lagi. Rian yang sempat terhenti sejenak proses pencariannya itu pun melanjutkan misinya.
Sementara itu,di dapur,Junno,anak tertua di rumah tersebut sedang membantu rijal menyiapkan makan malam. Junno yang mengiris bahan dan rijal yang mencampurkannya dengan bumbu. Hari itu mereka memasak seafood asam manis. Makanan favorit keluarga tersebut. Mereka suka sekali asam manis buatan rijal,selalu pas di hati. Rijal sedang sibuk mencampurkan beberapa bahan makanan sambil mengaduk saos yang ada di depannya. Junno masih terus mengiris beberapa bahan tambahan untuk asam manis.
Saat  junno dan rijal sedang asik mengerjakan tugas mereka,boy datang. Wajahnya tampak tidak bersemangat. Matanya masih setengah terbuka sangat jelas apa yang baru saja ia kerjakan. Boy memperhatikan rijal yang bersenandung kecil sambil mengaduk saos yang ada di depannya. Geli sekali melihat tingkah rijal yang sama sekali memperlihatkan adanya kejantanan pada dirinya.
Boy yang sedang asik memperhatikan saudara kembarnya itu sempat lupa kalau ia berdiri di sana adalah untuk mengantri mandi. Saat ia tengah asik memperhatikan rijal yang asik bergoyang sambil mengaduk aduk saus asam manis,pria yang baru selesai mandi terkejut melihat boy berdiri di depan kamrmandi sambil nyengir nyengir sendiri.
“he mata empat,buruan mandi,gih,ngapain,sih nyengir nyengir gag jelas gitu.” Ucap pria seraya memukul pundak saudara kembarnya itu.
“hah?”boy terkejut saat pria memukul pundaknya. Boy yang saat itu  tidak memakai kaca mata sangat tampan. Pria yang selamai ini di anggap paling tampan ,pasti merasa minder melihat wajah boy yang begitu tampan.
“buruan mandi.”pria mengulang kalimat yang ia ucapkan dengan cara yang lebih singkat.
“bentar,deh,aku lagi ngeliatin rijal lagi konser di dapur,”jawab boy sambil menunjuk ke arah rijal yang sedang bergoyang sambil mengaduk saus asam manis yang hampir selesai.
 Pria merasa jijik melihat saudara kembarnya yang tidak mempunyai jiwa laki laki itu. “he bencong,buruan napa,sih,kalo masak,nggak usah pake goyang.” Ledek pria.
Rijal yang merasa di panggil namanya menoleh kearah pria yang sedang tersenyum sinis ke arahnya. “udah,nggak usah kebanyakan cing cong,yang penting kamu bisa makan malam kan udah cukup,lagian,aku goyang atau enggak itu bukan urusan kamu. Ganggu aja,ih.”jawab rijal dengan logat khas banci.
Pria hanya manggut manggut mendengar jawaban saudaranya yang lebih muda 4 menit darinya itu. “serah.”jawabnya seraya pergi. “buruan mandi”uacapnya ke boy. Boy yang memang sejak awal ingin mandi tidak menjawab apapun dan langsung masuk kamar mandi.
########
         Makanan yang di buat rijal berasama junno mendapat sambutan yang baik dari saudara saudara dan ayah mereka. Habis tampa sisa. Seafood asam manis buatan rijal memang selalu menjadi favorit,apalagi kali ini rijal memberikan banyak pilihan untuk asam manisnya,ada udang,cumi cumi,dan beberapa jenis ikan. Bahkan sampai sausnya habis tanpa sisa,mangkuk tempat saus yang semula penuh langsung kosong setelah 15 menit berada di meja makan.
Semua tampak senang dengan menu makan malam mereka,namun,tidak bagi Pria.Pria sebenarnya ingin makan lebih banyak tiba tiba kehilangan nafsu makannya saat tiba tiba ia teringat kejadian di dapur tadi. Ia ingin muntah saat mengingat apa yang di lakukan sang koki saat sedang mengaduk saus yang kini ada di piringnya. Pria memang menghabiskan makanannya,namun,ia tidak menambah nasi yang ada di piringnya saat piringnya sudah kosong. Ia tidak ingin muntah karena makan makanan yang membuat nafsu makannya hilang yang di sebakan oleh sang koki.
“ya,tumben nggak tambah?”Tanya ayahnya.
“ga nafsu,yah.”jawabnya dengan nada sebal.
“lho,kenapa? Kan makanannya enak,emang ada yang salah?kamu nggak alergi seafood,kan setahu ayah?”
“aku jijik sama proses pembuatannya.”jawab pria. Rijal merasa tersinggung dengan kata kata pria tadi. Ia tidak menyangka,kakaknya yang satu itu akan mengatakan hal tersebut.
“emang,aku salah apa sama kamu?”Tanya rijal dengan nada sedikit marah.
“bukan Cuma lo yang salah,tapi si boy juga,”jawab pria dengan nada sedikit membentak. Boy yang sejak tadi terdiam terkejut dengan apa yang di katakan pria. Dia tidak merasa mempunyai salah kepada pria. Bahkan ia jarang sekali bericara dengan pria.
“aku? Emang aku salah apa?” Tanya boy dengan suara yang sangat pelan namun cukup jelas terdengar.
“lo ama si rijal itu terlalu aneh. Lo ama si rijal itu nggak normal tahu nggak.  Jujur,gue malu banget punya wajah persis sama kalian berdua. Lo liat kakak kakak sama adik adik kita. Kalian tahu kenapa mereka akur banget? Karena mereka sama bukan hanya di wajah. Tapi juga di tingkah. Mereka menjadi idola di masing masing sekolah. Mereka semua sudah punya pacar dan banyak sekali anak perempuan yang ngantri buat  mereka! Nah,kalian?” bentak pria.
Saudara saudara mereka saling berpandangan tidak percaya. Mereka tidak menyangka kalau pria bisa mengatakan hal sekasar itu. Pria benar benar keterlaluan,pikir mereka. Pria memang suka bercanda dengan kata kata yang sangat menyakitkan hati kalau mereka tidak mengingat hal tersebut suatu candaan.
“boy,nama doank lo keren,penampilan? Jauh. Kalo nama lo bisa ngomong,mungkin dia bakalan malu banget kalo tau yang punya nama adalah orang kayak lo. Cupu,nggak jelas,penakut. Mana mungkin ada cewek suka sama lo?” lanjut pria dengan nada sama dan di tambah senyum merendahkan.
“rijal,nama lo doank yang artinya cowo. Tingkah lo jauh dari itu. Mestinya ayah sama ibu beri nama ke lo nisa aja,jangan rijal. Nggap pas. Gue sempat ragu,lo udah puber apa belom,sih? Tingkah lo koq kayak anak cewek gitu? Gue juga sering mikir,lo mimpi basah nggak,sih? Kayaknya sama sekali nggak ada rasa suka ke cewe’. Jangan jangan lo maho?”setelah kalimat merendahakan yang ia ucapkan selesai,tiba tiba sebuah tamparan mendarat kasar di pipinya,rian adik termudanya menamparnya.
“sorry  bang kalo’ aku kurang ajar,tapi sakit yang abang rasain di pipi abang gag ada apa apanya di bandingin sakit hati yang sekarang bang rijal sama bang boy rasain bang. Kalo abang saudara kembar mereka,mustinya abang bisa ngerasain sakit hati mereka bang,aku aja yang Cuma adik mereka tahu gimana sakitnya,mustinya abang yang saudara kembar mereka lebih tahu.”ucap rian. Tidak ada yang menyangka kalau rian yang selama ini selalu tenang dalam segala hal bisa bicara seperti itu.
“ya,gue nggak ngerti,ngapain lo ngatain hal sejahat itu ke sodara sodara kembar lo. Jujur,gue nggak nyangka lo bisa sekasar itu ke mereka. Lo musti inget,lo 9 bulan ada di perut bunda bareng mereka. Bunda dengan susah payah ngelahirin kalian. Setiap tahun,ulang tahun kalian di rayain bareng. Kalian udah ada sekamar mulai kalian umur 4 tahun. Ada banyak hal yang udah kalian jalani bareng,kalo emang itu yang selama ini lo pikirn,kenapa lo baru ngomong sekarang?”tambah junno.
“jujur,selama ini gue sama junno iri banget sama kalian. Kalian triplets. Jarang banget ada triplets di dunia ini. Kalian enak banget,apa apa rame,soalnya bertiga. Kalo gue Cuma sama si junno,rian Cuma berdua sama si gian. Kalian? Kalian bertiga. Kalo’ 2 dari kalian lagi berantem yang satu bisa misahin. Kalo’ kalian lagi pingin cerita tetang masalah kalian,kalian bisa share ke kembaran kalian. Kalian enak banget,bertiga. Gue sering iri sama kalian. Ya,mustinya lo seneng punya kembaran kayak mereka.” Renno ikut bicara.
“aku Cuma bayangin aja kalo bunda ada di sini pati sedih banget dengerin kata kata bang pria.”  Kata kata yang gian ucapkan tidak banyak,namun langsung mengena di hati.
Ayah mereka sejak tadi tidak berkata apaun. Dia hanya menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak berhasil membesarkan anak anaknya. Ia tahu,memang ia salah tidak menuruti saran sang almarhum istrinya yang menyuruhnya untuk mencari ibu bagi anak anaknya jika ia tiada. Ia tetap bersikukuh ingin membesarkan anak anaknya seorang diri. Mungkin almarhum istrinya benar,ia sebaiknya mencari ibu baru untuk anak anaknya.
“udah,nggak usah di omongin sekarang. Udah jam 8,waktunya kalian belajar. Ayo,sekarang waktunya rian sama gian yang beresin semua piring. Ayo,cepet lakukan tugas kalian.”ayah yang sejak tadi terdiam akhirnya memilih membubarkan acara makan malam mereka.
Setelah itu mereka langsung mengerjakan tugas tugas mereka.junno dan renno kembali ke kamar lalu belajar,mereka sudah kelas 12,sebentar lagi mereka akan mengikuti ujian akhir nasional. Mereka lebih rajin belajar dari sebelumnya sejak mereka naik ke kelas 12. Mereka memang sangat memikirkan masa depan mereka. Nilai mereka selalu bagus. Relasi mereka dengan teman teman mereka juga bagus. Mereka mempunyai banyak teman.
 Rijal dan boy memilih langsung kembali ke kamar mereka. Mereka tidak belajar. Mereka memilih tidur. Boy menenggelamkan wajahnya di bantal ia merasa sangat kacau saat itu. Ia masih terkejut dengan apa yang pria ucapkan. Ia tidak percaya,pria yang selama ini ia hormati karena dia yang paling tua dia antara mereka bisa mengatakan hal sekasar itu. Pria benar benar keterlaluan.
Rijal duduk di atas tempat tidunya. Dia tertunduk dia tidak menyangka bisa mendengar kata kata yang begitu menyakitkan. Dia piker kalimat kalimat kasar pria itu hanya sebuah candaan yang tidak perlu di pikirkan,namun ternyata ia salah. Kalimat kalimat kasar yang pria ucapkan bukanlah candaan. Dia serius. Dia benar benar mengatakannya karena ia ingin mentakannya. Bukan karena candaan. Dia sama sekali tidak percaya akan hal yang baru saja menimpanya.
“jal,barusan aku ngimpi,ya?”Tanya boy. Sama seperti rijal. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia sangat berharap itu hanya mimpi.
“udah,terima aja.”jawab rijal pasrah. Enatah karena mendengar kalimat pria atau ia memang sedang tidak ingin melakukannya,suara rijal dan logat rijal yang biasanya kemayu,terdengar sangat berbeda. Ia berbicara layaknya laki laki normal. Sama sekali tidak ada logat  kemayu dalam kalimatnya.
Boy kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal yang ia peluk. Ia sangat bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah ini. Ia sangat bingung apakah ia harus marah kepada pria atau tidak. Ia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Ia tidak tahu kalau itu yang pria pikirkan selama ini. Boy bingung apakah ia harus minta maaf atau tidak kepada pria. Boy benar benar binggung. Ia semakin membenamkan wajahnya ke bantal ia memeluk bantal tersebut semakin erat.
“boy,kamu habis ini mau gimana ke pria?”Tanya rijal. Suara dan logat bancinya sudah tidak terdengar lagi sejak kejadia pria tadi.
“aku dari tadi juga bingung. Mau marah juga nggak,mau minta maaf kita nggak salah.” Jawab boy.
Rijal mendesah panjang. Dia benar benar bingung dengan tingkah pria malam itu. Rijal tidak tahu apa yang harus ia dan boy lakukan. Apalagi mereka bertiga tidur di satu kamar. Ia tidak tahu apa yang akan ia lalukan saat pria masuk kamar. Ia dan boy pasti salah tingkah saat pria masuk kamar.
Boy sudah tertidur pulas. Ia tampak lelah sekali. Rijal masih belum bisa tidur. Dia masih memikirkan masalah yang terjadi antara dia dan saudara kembarnya. Ia merasa pria bersalah karena perbuatannya itu,namun,ia sama sekali tidak ingin marah ke pria. Ia tidak ingin ada permusuhan antara ia dan sudara saudaranya.
Saat rijal masih kalut dengan pikirannya,pria masuk ke dalam kamar. Wajahnya tampak agak mengantuk. Mungkin ia sudah lelah berada di luar. Ia ingin tidur. Wajah rijal dan pria sama sama tampak terkejut. Rijal tidak menyangka kalau pria akan tidur di kamar sementara di kamar tersebut ada 2 orang yang baru saja ia maki maki selepas makan malam tadi. Pria yang memang sengaja tidak masuk kamar terlebih dahulu agar adik adiknya sudah tidur,namun ternyata rijal belum tidur. Wajah mereka tampak seperti cermin saat mereka berdua sama sama terkejut. Beberapa saat setelah mereka saling bertatapan dengan wajah terkejut,rijal segera mengambil posisi tidur. Dia tidak mau ada perbincangan antara dia dan pria.
#############
Sudah dua minggu semenjak kejadian di meja makan itu. rijal masih akur akur saja dengan boy,namun,tidak dengan hubungan mereka dengan pria. Pria sudah tidak pernah bicara dengan mereka lagi semenjak kejadian tersebut. Rijal dan boy tidak pernah ingin bebicara ataupun sekedar menyapa pria.
“boy,kita ini salah nggak,sih? Kita udah mutusin tali persaudaraan kita sama pria.”ucap rijal. Saat itu dia sedang berada di kamar bersama boy. Mereka sedang berada di kamar. Mereka memang lebih sering bersama semenjak kejadian pria itu.
“yang mutusin bukan kita,tapi si pria.”jawab boy singkat.
“tapi,kalo’ kita mulai nyapa pria duluan?”rijal mencari solusi.
“paling nggak di jawab”boy menolak solusi rijal.
“trus? Sampe’ kapan kita kayak gini terus?”Tanya rijal. Dia tampaknya mulai gerah dengan masalah yang ia hadapi 2 minggu terakhir.
“yang pasti,nggak sampe’ mati.”
Tiba tiba handphone pria bordering. Rijal dan boy saling bertatap muka. Mereka mengisyaratkan agar mengambil handphone tersebut. Mereka ingin tahu. Namun,mereka takut kalau saat mereka membaca sms yang masuk tersebut,pria masuk dan hubungan mereka ber 3 memburuk.
Mereka memutuskan untuk tidak nmengambil handphone tersebut. Namun,saat tekad mereka sudah bulat untuk tidak mengambil handphone tersebut,handphone tersebut berdering lagi. Satu sms masuk lagi. Boy yang penasaran langsung mengambil handphone tersebut,lalu boy membaca smsnya.
Dua sms yang masuk dari nomor yang sama. Nomor asing. Boy membuka sms pertama. Dalam sms yang pertama,si pengirim menyebutkan namanya,robby,teman dekat pria. Isi sms itu kurang enak di baca. Banyak tertulis suara kebencian di sana. Tampaknya pria sedang ada masalah dengan robby. Isi sms tersebut tentang pertandingan basket yanga akan di gelar di kemudian hari. Robby melarang pria ikut pertandingan tersebut. Tidak terlalu jelas kenapa robby melarangnya ikut. Lalu boy membuka sms yang kedua. Yang kali ini lebih ekstrim,robby mengancam pria. Kalau pria tetap ingin ikut,saat pertandingan akan di mulai,robby dan teman2nya akan menghajar pria sampai dia tidak ikut pertandingan tersebut. Geje. Pikir boy.
“jal,coba kamu baca,deh,smsnya.”boy menyerahkan hanphone milik pria.
Rijal membuka sms yang pertama. Matanya sedikit terbelalak saat membaca sms tersebut. Lalu ia membaca sms yang kedua,matanya semakin melebar. Dia tampak sangat terkejut.
“pria emang suka cari masalah ya? Sebel banget,deh. Emang enak,ya punya masalah itu?” ujar rijal. Logat bancinya sering kembali akhir akhir ini.
“terus?”
“biarin aja,deh.” Jawab rijal seraya melempar handphone pria ke tempat tidunya.
Boy berdiri. Ia tampak baru ingat akan sesuatu.
“mau kemana?”
“keluar sebentar. Ada urusan.”
“kemana?”
“nggak penting”jawab boy seraya keluar dari kamar.
Sekitar 15 menit rijal terdiam sendirian di kamar. setelah itu ia melihat kearah jam dinding. Pukul 15.00. ia berdiri lalu membuka lemarinya. Ia mengambil sebuah tas dari lemarinya lalu pergi keluar.
Pria masuk ke kamarnya. Sepi. Ia melihat handphonenya  dia mengambil handphonenya. Ia membuka inboxnya. Ia melihat ada 2 sms masuk. Ia belum membaca kedua sms tersebut. Ia membaca isi kedua sms tersebut. Ia terdiam saat membaca isi kedua sms. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur rijal. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakuan. Robby memang sudah sering mengatakan pada pria agar ia tidak ikut pertandingan.
Robby sering bilang kalau pertandingan yang akan ia dan timnya jalani adalah pertandingan yang sudah ia nanti. Kapten dari lawan mereka di pertandingan besok adalah musuh bebuyutan robby sejak kecil. Ia ingin tampil di pertandingan itu sebagai kapten. Ia juga tidak ingin pria ada di pertandingan itu. ia tahu ,kalau pria ikut pertandingan itu,teman temannya banyak mengandalkan pria dan ia hanya sebagai cadangan. Robby dan pria memang sudah di akui kemampuannya oleh senior seniornya. Namun,pria memang lebih menonjol dari pada robby. Senior senior mereka bahkan rela kalau pria yang masih kelas 10 menjadi kapten. Walaupun hubungan mereka tampak baik baik saja,kadang kala tampak kalau robby merasa iri kepada pria.
Pria terdiam. Ia mendesah. Ia tidak tahu apakah ia harus datang pada pertandingan besok atau tidak. Ia tidak ingin persahabatannya dengan  robby rusak hanya karena pertandingan tersebut. Ia bingung harus melakukan apa. Ia juga tidak mungkin absen pada pertandingan tersebut. Ia sudah berlatih keras dengan teman teman satu timnya. Para senior di timnya pun mengandalkan kemampuannya. Ia tidak mungkin tidak menghadiri pertandingan tersebut.
Saat pria tengah memikirkan pertandingannya besok,tiba tiba rijal masuk. Rijal tampak berkeringat. Rijal terkejut saat melihat pria terbaring di atas tempat tidurnya. pria segera berdiri dari tempat tidur rijal. ia bersandar di kaki tempat tidurnya. ia tertunduk. Wajahnya tampak lesu. Otaknya mulai lelah memikirkan masalah tersebut.
Tiba tiba renno masuk. “heh,minta pulsa.”
“nih.”sahut rijal.
Renno heran melihat rijal yang tampak berkeringat. “habis fitness?” tanyanya.
“nggak. Tadi naik angkot. Terus habis itu jalan agak jauh.”jawab rijal singkat sambil mengelap keringatnya.
“oh.”jawabnya.
“bang,aku mandi dulu. Nanti kalo’ udah selese abang pegang aja dulu.”pamit rijal.
Renno mengangguk. Ia masih asik dengan handphone adiknya. Ia masih terlarut saat rijal keluar dari kamarnya. Ia sangat terlarut dengan acara sms annya. Dia hampir tidak menyadari keberadaan pria di kamar tersebut. Dia mulai menyadari keberadaan pria saat pria mendesah lagi. Pria yang sejak tadi terdiam hanya bisa mendesah panjang.
“lo mulai kapan ada di situ?”Tanya renno. Matanya masih belum terlepas dari layar handphonenya.
“udah lama. Mulai sebelum si rijal masuk.”jawab pria. Suaranya masih terdengar lesu.
“kenapa,sih?”Tanya renno lagi. Ia merasakan ada sedikit perbedaan pada diri adiknya itu.
“bang,kalo’ besok aku nggak ikut pertandingan,boleh,nggak?”Tanya pria. Kebetulan renno adalah tim inti klub basket.
“lo pingin gue di gebukin anak satu tim?”renno terkejut mendengar pertanyaan adiknya. “emang ada masalah apa?” tanyanya.
“robby.”jawab pria.
“oh. Emang kenapa?”renno tampak sudah memprediksi jawaban adiknya.
“dia bilang aku nggak usah ikut pertandingan besok. Dia nyuruh aku absen besok. Dia pingin gantiin aku jadi kapten.”jawab pria. Dia tidak pernah tampak selesu itu sebelumnya.
“gila apa? Kemampuan dia jauh dari kamu. Kalo’ emang kamu besok nggak ikut,nggak mungkin dia yang di jadiin kapten. Mendingan juga gue.”renno mulai kembali ke handphone yang ada di tangannya.
“terus? Aku ikut nggak besok bang?”pria meminta saran.
“ikut aja,lah.”jawab renno santai.
“iya,deh.”
Tiba tiba boy masuk. Sama seperti rijal dia juga berkeringat.
“emang lo sama si rijal habis ngapain,sih?”Tanya renno. Dia heran melihat kedua adiknya yang kalem itu pulang dalam keadaan berkeringat.
“jalan jalan sebentar.”jawab boy.
“jalan jalan? Oh.”jawab renno. Dia sudah kembali terlarut dengan handphone rijal.
“kamar mandinya kosong? Aku mau mandi.”Tanya boy.
“yang satu ada rijal. yang satunya aja.”jawab renno. Boy keluar dari kamar.
Tampaknya renno sudah selesai dengan handphone adiknya. dia keluar dari kamar.
###############
“siap?”tanya renno ke pria.
“siap nggak siap bang,aku khawatir omongannya robby itu beneran.”jawab pria. Terdengar sedikit nada cemas di kalimatnya.
“khawatir apa takut?”goda renno. Ia tampak santai saat itu. namun,di dalam hati,dia sangat menghawatirkan adiknya.
“tau,deh bang. Aku bingung.”
“kalo’ mau tanding itu yang semangat,dong. Jangan lesu gitu.”tiba tiba junno menyela.
“udah,ayo berangkat.”ajak renno. Pria bejalan mendahului renno. Saat renno mau menyusul,junno menarik lengan renno.
“jagain dia. Feelingku jelek.”bisiknya seraya melepas lengan saudara kembarnya.
Pria yang menyadari kakaknya tidak berada di belakangnya menoleh.
“ayo”ajaknya.
“udah buruan berangkat nanti telat lagi. Nanti aku sama anak anak yang lain nyusul bareng ayah.”ucap junno. Dia cukup pandai menyembunyikan kekhawatirannya.
###############
Junno berjalan di belakang ayahnya. Lapangan basket indoor tersebut tampak sangat sesak pada bagian penonton. Junno sangat membenci tempat ramai. Kalau bukan karena adik dan saudara kembarnya yang akan  bermain,dia tidak akan datang ke pertandingan tersebut. Ramai. Dia benci hal tersebut.
Akhirnya,mereka menemukan tempat duduk. Gian duduk di bagian paling kiri sedangka junno di bagian paling kanan. mereka datang 30 menit sebelum pertandingan di mulai. Masih ada banyak waktu untuk berjalan jalan. namun,melihat keadaan yang sangat ramai dan sulitnya mendapatkan tempat duduk,mereka lebih memilih tetap duduk di tempat.
Tiba tiba rijal ingin ke kamar mandi. Dia menepuk paha boy. “aku ke kamar mandi dulu,ya.”ucapnya.
“ikut.”boy juga ingin ke kamar mandi.
“bang,aku sama boy mau ke kamar mandi.”rijal pamit ke junno.
“jangan salah masuk ke wc cewek,lho.”goda junno.
“lho,emang. Kenapa? Kan aku biasanya masuk ke situ.”balas rijal seraya pergi. Junno hanya nyengir mendengar jawaban adiknya.
Boy berjalan di belakang rijal. dia seperti mencari seseorang.
“nyari pria?” tanya rijal. boy hanya menunduk. “aku juga. Takutnya si robby beneran buktiin ancamannya.”suara rijal terdengar cemas.
“kira kira mereka di mana,ya?”tanya boy. Suaranya nyaris tidak terdengar di tengah keramaian. Namun rijal dapat mengetahui apa yang boy katakan walau tak mendengarkannya. Rijal menarik tangan boy. Mereka mencari keberadaan robby dan pria. Semakin jauh mereka berjalan,perasaan mereka semakin buruk.
Mereka berjalan cukup jauh. Akhirnya mereka menyerah. Mereka memilih kembali ke lapangan indoor. Mereka memilih jalan memutar yang melewati ruang loker para pemain.
“bruak!!!!!!! Bugh………” terdengar suara gebrakan yang di susul dengan seuara seseorang yang jatuh. Boy dan rijal saling berpandangan. Mereka langsung berlari ke arah sumber suara.
Robby dan teman temannya. Mereka memukuli seseorang. Pria. Tanpa melihat ke si korban,mereka sudah tahu siapa yang robby dan teman temannya pukuli. Rijal dan boy langsung berlari. Mengetahui ada yang mendekat,mereka berbalik.
“lho,kamu manggil sodara kembar kamu? Percuma,kamu aja yang kelihatannya cowo’ nggak bisa ngelawan kita. Apa lagi mereka yang Cuma setengah cowok?”ledek robby.
“boy,kamu bawa pria keluar. Biar aku yang nyelesaiin mereka.”ucap rijal. suaranya terdengar sangat serius. Boy hanya mengangguk. Dia berlari menuju pria yang sudah tekulai lemah. Pria babak belur saat itu.
Boy memapah pria keluar,namun,saat mereka akan keluar dari ruangan tersebut,robby menghalangi. “Tunggu,kalian nggak boleh keluar sebelum kamu bener bener bisa ngadepin kami.” Tantangnya.
“oke.”rijal menyanggupi.
Mereka pun berkelahi. Pria yang setengah sadar takjub melihat saudara kembarnya yang kemayu itu mengahadapi robby dan teman temannya sekaligus tanpa luka sedikitpun,yang bahkan ia sekalipun tidak bisa menghadapinya.
Tidak lebih dari 5 menit mereka sudah ko. Rijal segera membantu boy memapah pria. Mereka segera membawa pria ke ruang kesehatan. Mereka merbahkan pria di sana. Pria tampak lemah. Pria memandangi kedua adik kembarnya.
“makasih.”ucapnya dengan susah payah.
Rijal hanya tersenyum. “terus yang gantiin kamu sama si robby siapa?”tanya boy.
“kalo gag salah ada satu pemain cadangan. tapi,kan kurangnya dua.”jawab pria.
“heh.”tiba tiba junno dan renno memasuki ruang kesehatan.
“aku di beri tahu sama anak anak katanya liat kalian bawa pria ke uks.”seru renno.
“pertandingannya gimana?”tanya pria.
“udah,ren,kamu ke lapangan aja. Bentar lagi pertandingan di mulai.”ucap junno.
“tapi,pemainnya kurang saru. Si robby teler juga.”
“gampang,nanti aku sama boy yang cari in.”jawab rijal. ia tampak sudah tahu dengan apa yang akan ia lakukan.
“oke,gini aja,aku ke lapangan dulu,nanti kalian bawa pemainnya ke lapangan.”jawab renno seraya berlari.
“ya,pinjem bajunya.”ucap rijal.
Pria dengan susah payah melepas bajunya. Lalu memberikannya kepada rijal. rijal menerimanya dan memberikannya ke boy.
“kamu bisa,kan kalo nggak pake kaca mata,nanti?”tanya rijal.
Boy hanya mengangguk.
“nih pake.”boy mengenakan baju tersebut.
Pria dan junno yang melihat kejadian tersebut bingung. “emang,boy bisa maen basket?”tanya junno.
“liat aja nanti.”suara rijal terdengar genit seperti anak perempuan seusianya.
“kamu kuat jalan ke lapangan?”tanya junno.
Pria mengangguk. Dia mengambil baju yang tadi boy kenakan. Lalu menggunakannya.
“celananya?”tanya rijal.
“aku mau tukeran celana asal cowok genit kayak kamu kelau dulu.”boy mengusir rijal keluar. Rijal hanya nyengir nyengir mendengar ucapan boy. Seraya keluar. Junno mengikuti.
Setelah selesai bertukar pakaian boy melepas kacamatnya. “kok di lepas?” Tanya pria.
Boy tidak menjawab. Dia hanya diam. Dia merasa ia tidak perlu menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu. tapi,kalau sudah bercanda dengan rijal,bahkan pertanyaan yang sangat sangat tidak penting pun ia bersedia menjawabnya dengan panjang lebar.
“ayo keluar.”ajak boy. Pria yang tampaknya sudah mulai membaik walau masih tampak kesakitan di beberapa bagian.
##############
Di lapangan semua orang sudah menunggu di mulainya pertandingan yang akan di laksanakan beberapa menit lagi. Jadwal yang benarnya akan di mulai pada pukul 9 pagi di undur 10 menit. dikarenakan tim dari sekolah pria masih kekurangan satu anggota. Wasit member dispensasi 10 menit kalau masih belum menemukan anggota kelima,mereka harus bermain dengan anggota 4 orang,atau mereka belum kembali sampai waktu yang di tentukan,mereka akan di nyatakan kalah.
Renno bingung bukan main saat itu. dia rasanya ingin kabur dari tempat itu lalu bersembunyi di suatu tempat yang tidak ada orang yang akan menemukannya. Renno sudah mengatakan dia akan menemukan pengganti pria. Waktu yang di berikan wasit tinggal 1 menit lagi ranno dan teman temannya memutuskan akan bermain dengan anggota 4 orang. Renno merasa kalau itu adalah pertandingan terakhirnya bersama timnya di sma,karena,setelah pertandingan selesai,dia akan di keluarkan dari tim.
Renno dan 3 anggota lainnya masuk ke lapangan. Hanya ber empat. Tim lawam mereka memandang mereka dengan tatapan merendahkan. Lawan mereka yakin mereka dapat dengan mudah mengalahkan keempat orang tersebut.
“mana anggota ke 5?”Tanya wasit  ke salah satu anggta tim renno.
Sebelum tim renno dapat menjawab,tiba tiba boy datang. “saya anggota yang ke lima.”jawab boy.
Dia berjalan dengan langah tegap menuju ke lapangan. Di belakangnya ada junno,rijal dan pria. Mereka kembali ke kursi penonton.
Anggota tim yang lain ternganga melihat boy yang mereka pikir pria. “lho,no,katanya si pria sakit?”Tanya salah seorang anggota tim.
“nggak tahu.”jawab renno.
“bang,abang udah jadi abang aku sejak aku lahir. Masak nggak bisa bedain aku sama pria? Aku boy.”ucapan boy membuat wajah anggota tim yang sebelumnya ternganga menjadi kaget.
“lho,ini boy?”Tanya renno. “pantesan,kok si pria tambah ganteng abis di pukulin.”lanjutnya. lalu anggota tim yang lain tertawa kecuali boy. Menurutnya,tidak lucu.
“bagaimana,sudah siap?”Tanya wasit.
“bentar dulu pak. Ada satu hal lagi yang mau saya tanyakan ke anggota kelima.”renno menyela. “lo bisa main basket?”Tanya renno ke boy.
“jangan Tanya soal hal itu. aku nggak ngerti aku bisa main atau enggak. Biar kalian yang lebih ahli yang nilai.”jawab boy. “kami siap,pak. Ayo di mulai.”
Akhirnya pertandingan di mulai. Tim lawan yang awalnya meremehkan mereka merasa terkejut. Ternyata boy yang biasanya bermain basket bersama kapten tim lawan ternyata anggota tim tersebut. Mereka banyak ketinggalan angka di 30 menit pertama. Boy sangat pandai bermain basket. Dia juga punya cara cara unik untuk mengelabui lawan.
Akhirnya tim basket renno menang dengan hasil yang sangat memuaskan. Mereka tampak sangat senang saat itu. semua bersorak untuk boy. Mereka sangat senang boy mau bermain di tim mereka pada pertandingan itu.
Saat pertandingan berakhir,pria menghampiri boy. Dia ingin mengucapkan selamat kepada boy.
“selamat. Maaf aku udah jahat ke lo sama si rijal. Aku nggak nyangka kalau kalian bisa melakukan semua itu.”ucap pria seraya memeluk adiknya. Rijal yang saat itu berada di dekat sana pun ikut berpelukan bersama mereka. Mereka berjalan bergandengan menuju rumah dengan wajah bahagia.

Senin, 08 Agustus 2011

my first story

Diposting oleh avi di 15.28
Don’t judge a book from it’s cover



“dok!dok!dok!”terdengar suara pintu di pukul dengan keras.
“rijal!buruan! nggak usah luluran sekarang! Udah nggak kuat!”seru pria di depan kamar mandi sambil memegangi perutnya.
“udah terlanjur.” Jawab rijal santai. “Di kamar mandinya ayah aja.”lanjutnya.
“ada boy.”jawabnya.
“oj,ya udah,tungguin aja. Bentar lagi aku mau bilas lulurnya.”
“masih lama?”
“bentar lagi. Kurang 5 menit. Paling lama juga 10 menit.”
“hah? Waduh,aku masuk aja,ya?”pria tampak sudah tidak kuat.
“eh,jangan.”seru rijal.
“kamar mandi ayah kosong”ucap boy yang saat itu lewat. Dia baru selesai mandi.
Pria tidak mau menjawab apapun. Dia langsung berlari ke kamar madni ayahnya. Saat pintunya di buka, “eh,jangan masuk!”seru orang yang berada di kamr mandi.
“ayah,”pria terdengar sangat lemas.
“ya,aku udah selesai.”ucap rijal.
Pria segera berlari ke kamar mandi belakang. Dan saat ia sudah hampir sampai di kamar mandi,pintu kamar mandi sudah tertutup. Pria mengetuk pintu kamar mandi. “siapa?”tanyanya.
“abang,ya. Bentar.”jawab yang di dalam.
“ABANG!!!!!!”seru pria.
Itulang yang selalu terjadi setiap paginya di rumah si kembar,begitu sebutan untuk rumah jalan melon nomor 12 itu. pria yang selalu mendapat giliran mandi terakhir bersama sakit perutnya. Dan rijal yang mandinya super lama. Dan boy yang tidak pernah menyampaikan sesuatu dengan lengkap sehingga  pria selalu menderita setiap paginya.
Rumah si kembar adalah rumah tempat tinggal seorang ayah bersama 7 anak laki lakinya. Junno dan renno. Anak tertua,mereka kembar. Junno kurniawan,dia adalah anggota klub futsal. Dia sering bermain futsal bersama ayah dan salah satu adiknya,gian. Dia juga sering memasak untuk saudara saudaranya.
Renno kurniawan,anggota tim basket. Dia sangat boros. Dia bisa menghabiskan uang jajannya yang seharusnya ia gunakan untuk satu bulan dalam waktu satu jam,hanya untuk membeli pulsa. Dia tidak pernah terlepas dari handponenya kecuali saat mandi dan bermain basket. Entah siapa saja yang di hubungin,tapi dia sangat boros untuk pulsanya.
Setelah junno dan renno,ada adik triplet mereka. Pria,rijal dan boy. Yang tertua,pria mahadewa. Kapten klub basket yang keren. Kemampuannya bermain basket tidak perlu di ragukan lagi. Dia sudah di pilih menjadi kapten klub basket di sekolahnya walaupun dia masih duduk di kelas 10. Dia murah senyum. Dia mempunyai cukup banyak teman. Konyol bukan main.
Si tengah,rizal mahadewa. Cowok kemayu satu ini memiliki sangat banyak teman. Ia aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi yang ada di sekolah. Ia memiliki fisik yang sama dengan saudara saudaranya,namun,yang berbeda adalah tingkahnya yang kemayu. Dia cukup pandai memasak. Dia memiliki jiwa keibu ibuan yang membuatnya bisa mengejakan pekerjaan rumah tangga yang umumnya di kerjakan oleh ibu ibu. Walaupun dia kemayu,dia mempunyai rahasia yang bahkan saudaranya sendiri tidak mengetahiu rahasia tersebut.
Yang temuda,boy mahadewa. Boy,dia sangat pendiam dan pelit kata kata. Dia sering mengucapkan sebuah kalimat dengan jumlah kata sangat sedikit di dalamnya. Tidak jarang kalimat yang ia ucapkan mengubah arti kalimat sesungguhnya. Dia menggunakan kacamata walau tidak minus. Dia ingin menyembunyikan wajahnya yang mirip dengan pria yang menjadi idola dan rijal yang sering tampak di mana mana. Dia juga memiliki rahasia yang dia pikir tidak ada orang tahu. Namun,sebenarnya,adik adik kembarnya mengetahui rahasia tersebut.
Setelah triplets yang memiliki sifat berbeda,ada si kembar gian dan rian. Gian,dia sangat suka bermail bola,entah volley,futsal,basket ataupun sepak bola. Dia hanya mennyukai olah raga yang menggunakan bola,bola besar. Dia tergabung dalam klub sepak bola di sekolahnya. Dia juga sering bermain bersama kakaknya,junno.
Rian.termasuk anak yang memiliki nilai teringgi di antara saudara saudaranya. Iq nya cukup tinggi. Ia lebih suka permainan asah otak dari pada permainan fisik yang sering di lakukan saudara saudaranya. Dia selalu tampak jauh lebih tenang dari pada saudar saudaranya yang lain.
#########
Rian mengacak acak lemari pria,ia ingin meminjam rubik milik kakaknya. Lemari yang semula sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Anak berusia 13 tahun itu terus mengacak acak kamarnya sampai boy datang.  Boy yang baru datang hanya melihat dengan tatapan datar ke arah adiknya lalu mengambil handuk untuk mandi. Lalu pergi lagi. Rian yang sempat terhenti sejenak proses pencariannya itu pun melanjutkan misinya.
Sementara itu,di dapur,Junno,anak tertua di rumah tersebut sedang membantu rijal menyiapkan makan malam. Junno yang mengiris bahan dan rijal yang mencampurkannya dengan bumbu. Hari itu mereka memasak seafood asam manis. Makanan favorit keluarga tersebut. Mereka suka sekali asam manis buatan rijal,selalu pas di hati. Rijal sedang sibuk mencampurkan beberapa bahan makanan sambil mengaduk saos yang ada di depannya. Junno masih terus mengiris beberapa bahan tambahan untuk asam manis.
Saat  junno dan rijal sedang asik mengerjakan tugas mereka,boy datang. Wajahnya tampak tidak bersemangat. Matanya masih setengah terbuka sangat jelas apa yang baru saja ia kerjakan. Boy memperhatikan rijal yang bersenandung kecil sambil mengaduk saos yang ada di depannya. Geli sekali melihat tingkah rijal yang sama sekali memperlihatkan adanya kejantanan pada dirinya.
Boy yang sedang asik memperhatikan saudara kembarnya itu sempat lupa kalau ia berdiri di sana adalah untuk mengantri mandi. Saat ia tengah asik memperhatikan rijal yang asik bergoyang sambil mengaduk aduk saus asam manis,pria yang baru selesai mandi terkejut melihat boy berdiri di depan kamrmandi sambil nyengir nyengir sendiri.
“he mata empat,buruan mandi,gih,ngapain,sih nyengir nyengir gag jelas gitu.” Ucap pria seraya memukul pundak saudara kembarnya itu.
“hah?”boy terkejut saat pria memukul pundaknya. Boy yang saat itu  tidak memakai kaca mata sangat tampan. Pria yang selamai ini di anggap paling tampan ,pasti merasa minder melihat wajah boy yang begitu tampan.
“buruan mandi.”pria mengulang kalimat yang ia ucapkan dengan cara yang lebih singkat.
“bentar,deh,aku lagi ngeliatin rijal lagi konser di dapur,”jawab boy sambil menunjuk ke arah rijal yang sedang bergoyang sambil mengaduk saus asam manis yang hampir selesai.
 Pria merasa jijik melihat saudara kembarnya yang tidak mempunyai jiwa laki laki itu. “he bencong,buruan napa,sih,kalo masak,nggak usah pake goyang.” Ledek pria.
Rijal yang merasa di panggil namanya menoleh kearah pria yang sedang tersenyum sinis ke arahnya. “udah,nggak usah kebanyakan cing cong,yang penting kamu bisa makan malam kan udah cukup,lagian,aku goyang atau enggak itu bukan urusan kamu. Ganggu aja,ih.”jawab rijal dengan logat khas banci.
Pria hanya manggut manggut mendengar jawaban saudaranya yang lebih muda 4 menit darinya itu. “serah.”jawabnya seraya pergi. “buruan mandi”uacapnya ke boy. Boy yang memang sejak awal ingin mandi tidak menjawab apapun dan langsung masuk kamar mandi.
########
         Makanan yang di buat rijal berasama junno mendapat sambutan yang baik dari saudara saudara dan ayah mereka. Habis tampa sisa. Seafood asam manis buatan rijal memang selalu menjadi favorit,apalagi kali ini rijal memberikan banyak pilihan untuk asam manisnya,ada udang,cumi cumi,dan beberapa jenis ikan. Bahkan sampai sausnya habis tanpa sisa,mangkuk tempat saus yang semula penuh langsung kosong setelah 15 menit berada di meja makan.
Semua tampak senang dengan menu makan malam mereka,namun,tidak bagi Pria.Pria sebenarnya ingin makan lebih banyak tiba tiba kehilangan nafsu makannya saat tiba tiba ia teringat kejadian di dapur tadi. Ia ingin muntah saat mengingat apa yang di lakukan sang koki saat sedang mengaduk saus yang kini ada di piringnya. Pria memang menghabiskan makanannya,namun,ia tidak menambah nasi yang ada di piringnya saat piringnya sudah kosong. Ia tidak ingin muntah karena makan makanan yang membuat nafsu makannya hilang yang di sebakan oleh sang koki.
“ya,tumben nggak tambah?”Tanya ayahnya.
“ga nafsu,yah.”jawabnya dengan nada sebal.
“lho,kenapa? Kan makanannya enak,emang ada yang salah?kamu nggak alergi seafood,kan setahu ayah?”
“aku jijik sama proses pembuatannya.”jawab pria. Rijal merasa tersinggung dengan kata kata pria tadi. Ia tidak menyangka,kakaknya yang satu itu akan mengatakan hal tersebut.
“emang,aku salah apa sama kamu?”Tanya rijal dengan nada sedikit marah.
“bukan Cuma lo yang salah,tapi si boy juga,”jawab pria dengan nada sedikit membentak. Boy yang sejak tadi terdiam terkejut dengan apa yang di katakan pria. Dia tidak merasa mempunyai salah kepada pria. Bahkan ia jarang sekali bericara dengan pria.
“aku? Emang aku salah apa?” Tanya boy dengan suara yang sangat pelan namun cukup jelas terdengar.
“lo ama si rijal itu terlalu aneh. Lo ama si rijal itu nggak normal tahu nggak.  Jujur,gue malu banget punya wajah persis sama kalian berdua. Lo liat kakak kakak sama adik adik kita. Kalian tahu kenapa mereka akur banget? Karena mereka sama bukan hanya di wajah. Tapi juga di tingkah. Mereka menjadi idola di masing masing sekolah. Mereka semua sudah punya pacar dan banyak sekali anak perempuan yang ngantri buat  mereka! Nah,kalian?” bentak pria.
Saudara saudara mereka saling berpandangan tidak percaya. Mereka tidak menyangka kalau pria bisa mengatakan hal sekasar itu. Pria benar benar keterlaluan,pikir mereka. Pria memang suka bercanda dengan kata kata yang sangat menyakitkan hati kalau mereka tidak mengingat hal tersebut suatu candaan.
“boy,nama doank lo keren,penampilan? Jauh. Kalo nama lo bisa ngomong,mungkin dia bakalan malu banget kalo tau yang punya nama adalah orang kayak lo. Cupu,nggak jelas,penakut. Mana mungkin ada cewek suka sama lo?” lanjut pria dengan nada sama dan di tambah senyum merendahkan.
“rijal,nama lo doank yang artinya cowo. Tingkah lo jauh dari itu. Mestinya ayah sama ibu beri nama ke lo nisa aja,jangan rijal. Nggap pas. Gue sempat ragu,lo udah puber apa belom,sih? Tingkah lo koq kayak anak cewek gitu? Gue juga sering mikir,lo mimpi basah nggak,sih? Kayaknya sama sekali nggak ada rasa suka ke cewe’. Jangan jangan lo maho?”setelah kalimat merendahakan yang ia ucapkan selesai,tiba tiba sebuah tamparan mendarat kasar di pipinya,rian adik termudanya menamparnya.
“sorry  bang kalo’ aku kurang ajar,tapi sakit yang abang rasain di pipi abang gag ada apa apanya di bandingin sakit hati yang sekarang bang rijal sama bang boy rasain bang. Kalo abang saudara kembar mereka,mustinya abang bisa ngerasain sakit hati mereka bang,aku aja yang Cuma adik mereka tahu gimana sakitnya,mustinya abang yang saudara kembar mereka lebih tahu.”ucap rian. Tidak ada yang menyangka kalau rian yang selama ini selalu tenang dalam segala hal bisa bicara seperti itu.
“ya,gue nggak ngerti,ngapain lo ngatain hal sejahat itu ke sodara sodara kembar lo. Jujur,gue nggak nyangka lo bisa sekasar itu ke mereka. Lo musti inget,lo 9 bulan ada di perut bunda bareng mereka. Bunda dengan susah payah ngelahirin kalian. Setiap tahun,ulang tahun kalian di rayain bareng. Kalian udah ada sekamar mulai kalian umur 4 tahun. Ada banyak hal yang udah kalian jalani bareng,kalo emang itu yang selama ini lo pikirn,kenapa lo baru ngomong sekarang?”tambah junno.
“jujur,selama ini gue sama junno iri banget sama kalian. Kalian triplets. Jarang banget ada triplets di dunia ini. Kalian enak banget,apa apa rame,soalnya bertiga. Kalo gue Cuma sama si junno,rian Cuma berdua sama si gian. Kalian? Kalian bertiga. Kalo’ 2 dari kalian lagi berantem yang satu bisa misahin. Kalo’ kalian lagi pingin cerita tetang masalah kalian,kalian bisa share ke kembaran kalian. Kalian enak banget,bertiga. Gue sering iri sama kalian. Ya,mustinya lo seneng punya kembaran kayak mereka.” Renno ikut bicara.
“aku Cuma bayangin aja kalo bunda ada di sini pati sedih banget dengerin kata kata bang pria.”  Kata kata yang gian ucapkan tidak banyak,namun langsung mengena di hati.
Ayah mereka sejak tadi tidak berkata apaun. Dia hanya menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak berhasil membesarkan anak anaknya. Ia tahu,memang ia salah tidak menuruti saran sang almarhum istrinya yang menyuruhnya untuk mencari ibu bagi anak anaknya jika ia tiada. Ia tetap bersikukuh ingin membesarkan anak anaknya seorang diri. Mungkin almarhum istrinya benar,ia sebaiknya mencari ibu baru untuk anak anaknya.
“udah,nggak usah di omongin sekarang. Udah jam 8,waktunya kalian belajar. Ayo,sekarang waktunya rian sama gian yang beresin semua piring. Ayo,cepet lakukan tugas kalian.”ayah yang sejak tadi terdiam akhirnya memilih membubarkan acara makan malam mereka.
Setelah itu mereka langsung mengerjakan tugas tugas mereka.junno dan renno kembali ke kamar lalu belajar,mereka sudah kelas 12,sebentar lagi mereka akan mengikuti ujian akhir nasional. Mereka lebih rajin belajar dari sebelumnya sejak mereka naik ke kelas 12. Mereka memang sangat memikirkan masa depan mereka. Nilai mereka selalu bagus. Relasi mereka dengan teman teman mereka juga bagus. Mereka mempunyai banyak teman.
 Rijal dan boy memilih langsung kembali ke kamar mereka. Mereka tidak belajar. Mereka memilih tidur. Boy menenggelamkan wajahnya di bantal ia merasa sangat kacau saat itu. Ia masih terkejut dengan apa yang pria ucapkan. Ia tidak percaya,pria yang selama ini ia hormati karena dia yang paling tua dia antara mereka bisa mengatakan hal sekasar itu. Pria benar benar keterlaluan.
Rijal duduk di atas tempat tidunya. Dia tertunduk dia tidak menyangka bisa mendengar kata kata yang begitu menyakitkan. Dia piker kalimat kalimat kasar pria itu hanya sebuah candaan yang tidak perlu di pikirkan,namun ternyata ia salah. Kalimat kalimat kasar yang pria ucapkan bukanlah candaan. Dia serius. Dia benar benar mengatakannya karena ia ingin mentakannya. Bukan karena candaan. Dia sama sekali tidak percaya akan hal yang baru saja menimpanya.
“jal,barusan aku ngimpi,ya?”Tanya boy. Sama seperti rijal. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia sangat berharap itu hanya mimpi.
“udah,terima aja.”jawab rijal pasrah. Enatah karena mendengar kalimat pria atau ia memang sedang tidak ingin melakukannya,suara rijal dan logat rijal yang biasanya kemayu,terdengar sangat berbeda. Ia berbicara layaknya laki laki normal. Sama sekali tidak ada logat  kemayu dalam kalimatnya.
Boy kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal yang ia peluk. Ia sangat bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah ini. Ia sangat bingung apakah ia harus marah kepada pria atau tidak. Ia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya. Ia tidak tahu kalau itu yang pria pikirkan selama ini. Boy bingung apakah ia harus minta maaf atau tidak kepada pria. Boy benar benar binggung. Ia semakin membenamkan wajahnya ke bantal ia memeluk bantal tersebut semakin erat.
“boy,kamu habis ini mau gimana ke pria?”Tanya rijal. Suara dan logat bancinya sudah tidak terdengar lagi sejak kejadia pria tadi.
“aku dari tadi juga bingung. Mau marah juga nggak,mau minta maaf kita nggak salah.” Jawab boy.
Rijal mendesah panjang. Dia benar benar bingung dengan tingkah pria malam itu. Rijal tidak tahu apa yang harus ia dan boy lakukan. Apalagi mereka bertiga tidur di satu kamar. Ia tidak tahu apa yang akan ia lalukan saat pria masuk kamar. Ia dan boy pasti salah tingkah saat pria masuk kamar.
Boy sudah tertidur pulas. Ia tampak lelah sekali. Rijal masih belum bisa tidur. Dia masih memikirkan masalah yang terjadi antara dia dan saudara kembarnya. Ia merasa pria bersalah karena perbuatannya itu,namun,ia sama sekali tidak ingin marah ke pria. Ia tidak ingin ada permusuhan antara ia dan sudara saudaranya.
Saat rijal masih kalut dengan pikirannya,pria masuk ke dalam kamar. Wajahnya tampak agak mengantuk. Mungkin ia sudah lelah berada di luar. Ia ingin tidur. Wajah rijal dan pria sama sama tampak terkejut. Rijal tidak menyangka kalau pria akan tidur di kamar sementara di kamar tersebut ada 2 orang yang baru saja ia maki maki selepas makan malam tadi. Pria yang memang sengaja tidak masuk kamar terlebih dahulu agar adik adiknya sudah tidur,namun ternyata rijal belum tidur. Wajah mereka tampak seperti cermin saat mereka berdua sama sama terkejut. Beberapa saat setelah mereka saling bertatapan dengan wajah terkejut,rijal segera mengambil posisi tidur. Dia tidak mau ada perbincangan antara dia dan pria.
#############
Sudah dua minggu semenjak kejadian di meja makan itu. rijal masih akur akur saja dengan boy,namun,tidak dengan hubungan mereka dengan pria. Pria sudah tidak pernah bicara dengan mereka lagi semenjak kejadian tersebut. Rijal dan boy tidak pernah ingin bebicara ataupun sekedar menyapa pria.
“boy,kita ini salah nggak,sih? Kita udah mutusin tali persaudaraan kita sama pria.”ucap rijal. Saat itu dia sedang berada di kamar bersama boy. Mereka sedang berada di kamar. Mereka memang lebih sering bersama semenjak kejadian pria itu.
“yang mutusin bukan kita,tapi si pria.”jawab boy singkat.
“tapi,kalo’ kita mulai nyapa pria duluan?”rijal mencari solusi.
“paling nggak di jawab”boy menolak solusi rijal.
“trus? Sampe’ kapan kita kayak gini terus?”Tanya rijal. Dia tampaknya mulai gerah dengan masalah yang ia hadapi 2 minggu terakhir.
“yang pasti,nggak sampe’ mati.”
Tiba tiba handphone pria bordering. Rijal dan boy saling bertatap muka. Mereka mengisyaratkan agar mengambil handphone tersebut. Mereka ingin tahu. Namun,mereka takut kalau saat mereka membaca sms yang masuk tersebut,pria masuk dan hubungan mereka ber 3 memburuk.
Mereka memutuskan untuk tidak nmengambil handphone tersebut. Namun,saat tekad mereka sudah bulat untuk tidak mengambil handphone tersebut,handphone tersebut berdering lagi. Satu sms masuk lagi. Boy yang penasaran langsung mengambil handphone tersebut,lalu boy membaca smsnya.
Dua sms yang masuk dari nomor yang sama. Nomor asing. Boy membuka sms pertama. Dalam sms yang pertama,si pengirim menyebutkan namanya,robby,teman dekat pria. Isi sms itu kurang enak di baca. Banyak tertulis suara kebencian di sana. Tampaknya pria sedang ada masalah dengan robby. Isi sms tersebut tentang pertandingan basket yanga akan di gelar di kemudian hari. Robby melarang pria ikut pertandingan tersebut. Tidak terlalu jelas kenapa robby melarangnya ikut. Lalu boy membuka sms yang kedua. Yang kali ini lebih ekstrim,robby mengancam pria. Kalau pria tetap ingin ikut,saat pertandingan akan di mulai,robby dan teman2nya akan menghajar pria sampai dia tidak ikut pertandingan tersebut. Geje. Pikir boy.
“jal,coba kamu baca,deh,smsnya.”boy menyerahkan hanphone milik pria.
Rijal membuka sms yang pertama. Matanya sedikit terbelalak saat membaca sms tersebut. Lalu ia membaca sms yang kedua,matanya semakin melebar. Dia tampak sangat terkejut.
“pria emang suka cari masalah ya? Sebel banget,deh. Emang enak,ya punya masalah itu?” ujar rijal. Logat bancinya sering kembali akhir akhir ini.
“terus?”
“biarin aja,deh.” Jawab rijal seraya melempar handphone pria ke tempat tidunya.
Boy berdiri. Ia tampak baru ingat akan sesuatu.
“mau kemana?”
“keluar sebentar. Ada urusan.”
“kemana?”
“nggak penting”jawab boy seraya keluar dari kamar.
Sekitar 15 menit rijal terdiam sendirian di kamar. setelah itu ia melihat kearah jam dinding. Pukul 15.00. ia berdiri lalu membuka lemarinya. Ia mengambil sebuah tas dari lemarinya lalu pergi keluar.
Pria masuk ke kamarnya. Sepi. Ia melihat handphonenya  dia mengambil handphonenya. Ia membuka inboxnya. Ia melihat ada 2 sms masuk. Ia belum membaca kedua sms tersebut. Ia membaca isi kedua sms tersebut. Ia terdiam saat membaca isi kedua sms. Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur rijal. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakuan. Robby memang sudah sering mengatakan pada pria agar ia tidak ikut pertandingan.
Robby sering bilang kalau pertandingan yang akan ia dan timnya jalani adalah pertandingan yang sudah ia nanti. Kapten dari lawan mereka di pertandingan besok adalah musuh bebuyutan robby sejak kecil. Ia ingin tampil di pertandingan itu sebagai kapten. Ia juga tidak ingin pria ada di pertandingan itu. ia tahu ,kalau pria ikut pertandingan itu,teman temannya banyak mengandalkan pria dan ia hanya sebagai cadangan. Robby dan pria memang sudah di akui kemampuannya oleh senior seniornya. Namun,pria memang lebih menonjol dari pada robby. Senior senior mereka bahkan rela kalau pria yang masih kelas 10 menjadi kapten. Walaupun hubungan mereka tampak baik baik saja,kadang kala tampak kalau robby merasa iri kepada pria.
Pria terdiam. Ia mendesah. Ia tidak tahu apakah ia harus datang pada pertandingan besok atau tidak. Ia tidak ingin persahabatannya dengan  robby rusak hanya karena pertandingan tersebut. Ia bingung harus melakukan apa. Ia juga tidak mungkin absen pada pertandingan tersebut. Ia sudah berlatih keras dengan teman teman satu timnya. Para senior di timnya pun mengandalkan kemampuannya. Ia tidak mungkin tidak menghadiri pertandingan tersebut.
Saat pria tengah memikirkan pertandingannya besok,tiba tiba rijal masuk. Rijal tampak berkeringat. Rijal terkejut saat melihat pria terbaring di atas tempat tidurnya. pria segera berdiri dari tempat tidur rijal. ia bersandar di kaki tempat tidurnya. ia tertunduk. Wajahnya tampak lesu. Otaknya mulai lelah memikirkan masalah tersebut.
Tiba tiba renno masuk. “heh,minta pulsa.”
“nih.”sahut rijal.
Renno heran melihat rijal yang tampak berkeringat. “habis fitness?” tanyanya.
“nggak. Tadi naik angkot. Terus habis itu jalan agak jauh.”jawab rijal singkat sambil mengelap keringatnya.
“oh.”jawabnya.
“bang,aku mandi dulu. Nanti kalo’ udah selese abang pegang aja dulu.”pamit rijal.
Renno mengangguk. Ia masih asik dengan handphone adiknya. Ia masih terlarut saat rijal keluar dari kamarnya. Ia sangat terlarut dengan acara sms annya. Dia hampir tidak menyadari keberadaan pria di kamar tersebut. Dia mulai menyadari keberadaan pria saat pria mendesah lagi. Pria yang sejak tadi terdiam hanya bisa mendesah panjang.
“lo mulai kapan ada di situ?”Tanya renno. Matanya masih belum terlepas dari layar handphonenya.
“udah lama. Mulai sebelum si rijal masuk.”jawab pria. Suaranya masih terdengar lesu.
“kenapa,sih?”Tanya renno lagi. Ia merasakan ada sedikit perbedaan pada diri adiknya itu.
“bang,kalo’ besok aku nggak ikut pertandingan,boleh,nggak?”Tanya pria. Kebetulan renno adalah tim inti klub basket.
“lo pingin gue di gebukin anak satu tim?”renno terkejut mendengar pertanyaan adiknya. “emang ada masalah apa?” tanyanya.
“robby.”jawab pria.
“oh. Emang kenapa?”renno tampak sudah memprediksi jawaban adiknya.
“dia bilang aku nggak usah ikut pertandingan besok. Dia nyuruh aku absen besok. Dia pingin gantiin aku jadi kapten.”jawab pria. Dia tidak pernah tampak selesu itu sebelumnya.
“gila apa? Kemampuan dia jauh dari kamu. Kalo’ emang kamu besok nggak ikut,nggak mungkin dia yang di jadiin kapten. Mendingan juga gue.”renno mulai kembali ke handphone yang ada di tangannya.
“terus? Aku ikut nggak besok bang?”pria meminta saran.
“ikut aja,lah.”jawab renno santai.
“iya,deh.”
Tiba tiba boy masuk. Sama seperti rijal dia juga berkeringat.
“emang lo sama si rijal habis ngapain,sih?”Tanya renno. Dia heran melihat kedua adiknya yang kalem itu pulang dalam keadaan berkeringat.
“jalan jalan sebentar.”jawab boy.
“jalan jalan? Oh.”jawab renno. Dia sudah kembali terlarut dengan handphone rijal.
“kamar mandinya kosong? Aku mau mandi.”Tanya boy.
“yang satu ada rijal. yang satunya aja.”jawab renno. Boy keluar dari kamar.
Tampaknya renno sudah selesai dengan handphone adiknya. dia keluar dari kamar.
###############
“siap?”tanya renno ke pria.
“siap nggak siap bang,aku khawatir omongannya robby itu beneran.”jawab pria. Terdengar sedikit nada cemas di kalimatnya.
“khawatir apa takut?”goda renno. Ia tampak santai saat itu. namun,di dalam hati,dia sangat menghawatirkan adiknya.
“tau,deh bang. Aku bingung.”
“kalo’ mau tanding itu yang semangat,dong. Jangan lesu gitu.”tiba tiba junno menyela.
“udah,ayo berangkat.”ajak renno. Pria bejalan mendahului renno. Saat renno mau menyusul,junno menarik lengan renno.
“jagain dia. Feelingku jelek.”bisiknya seraya melepas lengan saudara kembarnya.
Pria yang menyadari kakaknya tidak berada di belakangnya menoleh.
“ayo”ajaknya.
“udah buruan berangkat nanti telat lagi. Nanti aku sama anak anak yang lain nyusul bareng ayah.”ucap junno. Dia cukup pandai menyembunyikan kekhawatirannya.
###############
Junno berjalan di belakang ayahnya. Lapangan basket indoor tersebut tampak sangat sesak pada bagian penonton. Junno sangat membenci tempat ramai. Kalau bukan karena adik dan saudara kembarnya yang akan  bermain,dia tidak akan datang ke pertandingan tersebut. Ramai. Dia benci hal tersebut.
Akhirnya,mereka menemukan tempat duduk. Gian duduk di bagian paling kiri sedangka junno di bagian paling kanan. mereka datang 30 menit sebelum pertandingan di mulai. Masih ada banyak waktu untuk berjalan jalan. namun,melihat keadaan yang sangat ramai dan sulitnya mendapatkan tempat duduk,mereka lebih memilih tetap duduk di tempat.
Tiba tiba rijal ingin ke kamar mandi. Dia menepuk paha boy. “aku ke kamar mandi dulu,ya.”ucapnya.
“ikut.”boy juga ingin ke kamar mandi.
“bang,aku sama boy mau ke kamar mandi.”rijal pamit ke junno.
“jangan salah masuk ke wc cewek,lho.”goda junno.
“lho,emang. Kenapa? Kan aku biasanya masuk ke situ.”balas rijal seraya pergi. Junno hanya nyengir mendengar jawaban adiknya.
Boy berjalan di belakang rijal. dia seperti mencari seseorang.
“nyari pria?” tanya rijal. boy hanya menunduk. “aku juga. Takutnya si robby beneran buktiin ancamannya.”suara rijal terdengar cemas.
“kira kira mereka di mana,ya?”tanya boy. Suaranya nyaris tidak terdengar di tengah keramaian. Namun rijal dapat mengetahui apa yang boy katakan walau tak mendengarkannya. Rijal menarik tangan boy. Mereka mencari keberadaan robby dan pria. Semakin jauh mereka berjalan,perasaan mereka semakin buruk.
Mereka berjalan cukup jauh. Akhirnya mereka menyerah. Mereka memilih kembali ke lapangan indoor. Mereka memilih jalan memutar yang melewati ruang loker para pemain.
“bruak!!!!!!! Bugh………” terdengar suara gebrakan yang di susul dengan seuara seseorang yang jatuh. Boy dan rijal saling berpandangan. Mereka langsung berlari ke arah sumber suara.
Robby dan teman temannya. Mereka memukuli seseorang. Pria. Tanpa melihat ke si korban,mereka sudah tahu siapa yang robby dan teman temannya pukuli. Rijal dan boy langsung berlari. Mengetahui ada yang mendekat,mereka berbalik.
“lho,kamu manggil sodara kembar kamu? Percuma,kamu aja yang kelihatannya cowo’ nggak bisa ngelawan kita. Apa lagi mereka yang Cuma setengah cowok?”ledek robby.
“boy,kamu bawa pria keluar. Biar aku yang nyelesaiin mereka.”ucap rijal. suaranya terdengar sangat serius. Boy hanya mengangguk. Dia berlari menuju pria yang sudah tekulai lemah. Pria babak belur saat itu.
Boy memapah pria keluar,namun,saat mereka akan keluar dari ruangan tersebut,robby menghalangi. “Tunggu,kalian nggak boleh keluar sebelum kamu bener bener bisa ngadepin kami.” Tantangnya.
“oke.”rijal menyanggupi.
Mereka pun berkelahi. Pria yang setengah sadar takjub melihat saudara kembarnya yang kemayu itu mengahadapi robby dan teman temannya sekaligus tanpa luka sedikitpun,yang bahkan ia sekalipun tidak bisa menghadapinya.
Tidak lebih dari 5 menit mereka sudah ko. Rijal segera membantu boy memapah pria. Mereka segera membawa pria ke ruang kesehatan. Mereka merbahkan pria di sana. Pria tampak lemah. Pria memandangi kedua adik kembarnya.
“makasih.”ucapnya dengan susah payah.
Rijal hanya tersenyum. “terus yang gantiin kamu sama si robby siapa?”tanya boy.
“kalo gag salah ada satu pemain cadangan. tapi,kan kurangnya dua.”jawab pria.
“heh.”tiba tiba junno dan renno memasuki ruang kesehatan.
“aku di beri tahu sama anak anak katanya liat kalian bawa pria ke uks.”seru renno.
“pertandingannya gimana?”tanya pria.
“udah,ren,kamu ke lapangan aja. Bentar lagi pertandingan di mulai.”ucap junno.
“tapi,pemainnya kurang saru. Si robby teler juga.”
“gampang,nanti aku sama boy yang cari in.”jawab rijal. ia tampak sudah tahu dengan apa yang akan ia lakukan.
“oke,gini aja,aku ke lapangan dulu,nanti kalian bawa pemainnya ke lapangan.”jawab renno seraya berlari.
“ya,pinjem bajunya.”ucap rijal.
Pria dengan susah payah melepas bajunya. Lalu memberikannya kepada rijal. rijal menerimanya dan memberikannya ke boy.
“kamu bisa,kan kalo nggak pake kaca mata,nanti?”tanya rijal.
Boy hanya mengangguk.
“nih pake.”boy mengenakan baju tersebut.
Pria dan junno yang melihat kejadian tersebut bingung. “emang,boy bisa maen basket?”tanya junno.
“liat aja nanti.”suara rijal terdengar genit seperti anak perempuan seusianya.
“kamu kuat jalan ke lapangan?”tanya junno.
Pria mengangguk. Dia mengambil baju yang tadi boy kenakan. Lalu menggunakannya.
“celananya?”tanya rijal.
“aku mau tukeran celana asal cowok genit kayak kamu kelau dulu.”boy mengusir rijal keluar. Rijal hanya nyengir nyengir mendengar ucapan boy. Seraya keluar. Junno mengikuti.
Setelah selesai bertukar pakaian boy melepas kacamatnya. “kok di lepas?” Tanya pria.
Boy tidak menjawab. Dia hanya diam. Dia merasa ia tidak perlu menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu. tapi,kalau sudah bercanda dengan rijal,bahkan pertanyaan yang sangat sangat tidak penting pun ia bersedia menjawabnya dengan panjang lebar.
“ayo keluar.”ajak boy. Pria yang tampaknya sudah mulai membaik walau masih tampak kesakitan di beberapa bagian.
##############
Di lapangan semua orang sudah menunggu di mulainya pertandingan yang akan di laksanakan beberapa menit lagi. Jadwal yang benarnya akan di mulai pada pukul 9 pagi di undur 10 menit. dikarenakan tim dari sekolah pria masih kekurangan satu anggota. Wasit member dispensasi 10 menit kalau masih belum menemukan anggota kelima,mereka harus bermain dengan anggota 4 orang,atau mereka belum kembali sampai waktu yang di tentukan,mereka akan di nyatakan kalah.
Renno bingung bukan main saat itu. dia rasanya ingin kabur dari tempat itu lalu bersembunyi di suatu tempat yang tidak ada orang yang akan menemukannya. Renno sudah mengatakan dia akan menemukan pengganti pria. Waktu yang di berikan wasit tinggal 1 menit lagi ranno dan teman temannya memutuskan akan bermain dengan anggota 4 orang. Renno merasa kalau itu adalah pertandingan terakhirnya bersama timnya di sma,karena,setelah pertandingan selesai,dia akan di keluarkan dari tim.
Renno dan 3 anggota lainnya masuk ke lapangan. Hanya ber empat. Tim lawam mereka memandang mereka dengan tatapan merendahkan. Lawan mereka yakin mereka dapat dengan mudah mengalahkan keempat orang tersebut.
“mana anggota ke 5?”Tanya wasit  ke salah satu anggta tim renno.
Sebelum tim renno dapat menjawab,tiba tiba boy datang. “saya anggota yang ke lima.”jawab boy.
Dia berjalan dengan langah tegap menuju ke lapangan. Di belakangnya ada junno,rijal dan pria. Mereka kembali ke kursi penonton.
Anggota tim yang lain ternganga melihat boy yang mereka pikir pria. “lho,no,katanya si pria sakit?”Tanya salah seorang anggota tim.
“nggak tahu.”jawab renno.
“bang,abang udah jadi abang aku sejak aku lahir. Masak nggak bisa bedain aku sama pria? Aku boy.”ucapan boy membuat wajah anggota tim yang sebelumnya ternganga menjadi kaget.
“lho,ini boy?”Tanya renno. “pantesan,kok si pria tambah ganteng abis di pukulin.”lanjutnya. lalu anggota tim yang lain tertawa kecuali boy. Menurutnya,tidak lucu.
“bagaimana,sudah siap?”Tanya wasit.
“bentar dulu pak. Ada satu hal lagi yang mau saya tanyakan ke anggota kelima.”renno menyela. “lo bisa main basket?”Tanya renno ke boy.
“jangan Tanya soal hal itu. aku nggak ngerti aku bisa main atau enggak. Biar kalian yang lebih ahli yang nilai.”jawab boy. “kami siap,pak. Ayo di mulai.”
Akhirnya pertandingan di mulai. Tim lawan yang awalnya meremehkan mereka merasa terkejut. Ternyata boy yang biasanya bermain basket bersama kapten tim lawan ternyata anggota tim tersebut. Mereka banyak ketinggalan angka di 30 menit pertama. Boy sangat pandai bermain basket. Dia juga punya cara cara unik untuk mengelabui lawan.
Akhirnya tim basket renno menang dengan hasil yang sangat memuaskan. Mereka tampak sangat senang saat itu. semua bersorak untuk boy. Mereka sangat senang boy mau bermain di tim mereka pada pertandingan itu.
Saat pertandingan berakhir,pria menghampiri boy. Dia ingin mengucapkan selamat kepada boy.
“selamat. Maaf aku udah jahat ke lo sama si rijal. Aku nggak nyangka kalau kalian bisa melakukan semua itu.”ucap pria seraya memeluk adiknya. Rijal yang saat itu berada di dekat sana pun ikut berpelukan bersama mereka. Mereka berjalan bergandengan menuju rumah dengan wajah bahagia.

0 komentar on "my first story"

Posting Komentar